Ketika membicarakan influencer, banyak perusahaan yang mengasosiasikan sebagai selebgram dengan jutaan followers. Meskipun influencer dengan basis pengikut yang besar memang memiliki jangkauan yang luas, kampanye mereka tidak selalu efektif karena kurang autentik.
Kolaborasi kampanye brand kecantikan Amerika, Proactiv dan Kendall Jenner contohnya. Meski menjadi sosok influencer paling berpengaruh pada 2019, banyak konsumen yang mempertanyakan kolaborasi keduanya dan menuduh Kendall tidak jujur.
Pasalnya, dalam video promosi yang dipublikasikan di saluran YouTube Proactiv, seperti yang dilansir Medium, Kendall bercerita bagaimana produk Proactiv membantunya merawat kulitnya. Namun, pengikut Kendall menuduh sang influencer tidak menggunakan produk Proactiv. Asumsi mencuat karena Kendall pernah berbicara tentang bagaimana dokter kulit membantunya mengatasi masalah kulit.
Kasus lain turut menimpa kemitraan Scott Disick dan perusahaan yang menjual produk kesehatan dan detoksifikasi, Bootea. Sebenarnya, kemitraan keduanya mengharuskan Scott Disick untuk mengunggah fotonya bersama produk dengan caption yang telah ditentukan Bootea.
Lucunya, bukannya menuliskan caption yang diminta, Scott Disick justru mengikutsertakan seluruh brief perusahaan. Dengan lengkap Scott Disick menulis “Ini dia, jam 4 sore, tulis di bawah. Keterangan: Mengikuti rutinitas olahraga musim panas dengan protein shake @booteauk pagi saya!”.
Meski viral, kemitraan Bootea dan Scott Disick jelas menjadi candaan di internet.
Influencer Tidak Lagi Dipercaya Gen Z

Tak heran jika ketertarikan Gen Z terhadap influencer dilaporkan terus menurun. Global Web Index (GWI) mencatat, jumlah Gen Z yang mempercayai influencer telah turun 12% sejak tahun 2020. Konsumen terutama Gen Z justru lebih tertarik dengan konten bersponsor yang dipromosikan oleh pengguna produk atau layanan tersebut.
Alih-alih membayar mahal mega influencer yang tidak efektif, brand lebih baik memilih sosok yang benar-benar memiliki pengalaman dengan produk atau brand mereka. Maka dari itu, siapa lagi yang mampu menjadi sosok pemberi pengaruh terbaik bagi bisnis kalau bukan karyawan perusahaan itu sendiri?
Karyawan adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan nyata tentang brand, produk, dan layanan perusahaan. Faktanya, survei Edelman Trust Barometer menunjukkan konsumen tiga kali lebih mungkin mempercayai informasi tentang perusahaan yang dibagikan oleh karyawan daripada informasi yang dibagikan oleh CEO, founder, atau akun media sosial perusahaan itu sendiri.
Senada, laporan bertajuk How to Maximize Reach and Engagement by Empowering Employees to Share Content dari LinkedIn, menunjukkan konten yang dibagikan oleh karyawan memiliki click-through rate (CTR) dua kali lebih tinggi dibandingkan saat dibagikan oleh perusahaan itu sendiri.
Keuntungan lain berasal dari jaringan karyawan yang setidaknya 10 kali lebih besar daripada basis pengikut perusahaan. Dengan begitu, unggahan karyawan dapat menjangkau lebih banyak audiens.
Mengapa Karyawan Lebih Unggul?

Tak bisa dipungkiri, media sosial berperan penting dalam bisnis saat ini. Media sosial menjadi platform bagi bisnis untuk membuat dan berbagi konten promosi, membangun keterlibatan, dan berinteraksi dengan audiens target mereka.
Tak heran jika banyak perusahaan yang kemudian bermitra dengan para influencer untuk meningkatkan brand awareness dan penjualan. Namun, sebuah riset oleh Bazaarvoice, menunjukkan sekitar 47% konsumen mulai lelah dengan konten influencer yang serupa dan berulang. Konsumen kini mulai meninggalkan para influencer karena kurangnya orisinalitas pada konten bersponsor mereka.
Dalam hal ini, karyawan memiliki keunggulan di mana unggahan terkait produk atau layanan perusahaan yang dibagikan oleh mereka terlihat tiga kali lebih autentik, yang membantu konten promosi mereka berbeda dari konten berbayar para influencer. Terlebih, konsumen seperti Gen Z lebih cenderung terlibat dengan konten yang berasal dari sosok yang mereka kenal.
Dibandingkan mega influencer, nano dan micro influencer kini dipandang lebih autentik dan cenderung memiliki tingkat keterlibatan dan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan mega influencer, yang sering kehilangan kepercayaan dan kredibilitas. Manfaat bekerja dengan nano dan micro influencer diyakini memungkinkan keterlibatan yang lebih tinggi, hubungan yang lebih dekat, dan kepercayaan yang lebih besar.
Dengan pemikiran ini, perusahaan telah mengenali peluang untuk memanfaatkan jejaring sosial pribadi yang digunakan oleh karyawan mereka dan mengubahnya menjadi semacam brand ambassador mereka. Praktek inilah yang dikenal dengan istilah employee advocacy atau advokasi karyawan.


